MATA KULIAH E K O L O G I H U T A N

E K O L O G I H U T A N
I N D O N E S I A

OLEH : MOHAMMAD AQSA, S.Hut

DISADUR DARI :

Ir. ISHEMAT SOERIANEGARA,M.Sc., Ph.D
Dan Ir. ANDRY INDRAWAN

I. PENDAHULUAN

1. Batasan
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan ini sangat erat dan kompleks sehingga Odum (1959,1971) menyatakan bahwa ekologi adalah biologi lingkungan (Environmental biology)

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. Hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan hutan, margasatwa dan alam lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem. Menurut Odum (op cit) Ekosistem adalah suatu sistem di daalam alam yang mengandung makhluk hidup (organisme) dan lingkungan yang terdiri dari zat-zat tak hidup yang saling mempengaruhi, dan di antara keduanya terjadi pertukaran zat yang perlu untuk mempertahankan kehidupan.

Ekologi hutan adalah cabang ekologi yang khusus mempelajari masayarakat atau ekosistem hutan. Hutan dapat dipelajari dari segi Autekologi dan Synekologi.
Autekologi mempelajari ekologi sesuatu jenis pohon, atau pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya satu atau lebih jeni-jenis pohon. Sifat penyelidikannya mendekati fisiologi tumbuh-tumbuhan, seperti penelitian tentang pertumbuhan pohon atau fisio ekologi.

Synekologi mempelajari huatan sebagai masyarakat atau ekosistem, misalnya pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan produksi hutan.

2. Sangkut Paut Ekologi dengan Ilmu Lain
Bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan ekologi hutan :
a. Taksonomi tumbuhan (floristik dan dendrologi)
Diperlukan untuk mengenal jenis-jenis pohon dan tumbuh-tumbuhan lainnya di dalam hutan.

b. Geologi dan Geomorfologi
Keadaan geologi dan feomorfologi mempengaruhi pembentukan dan sifat-sifat tanah dan penyebaran serta hidup tumbuhan.
Tofografi atau relief mempengaruhi komposisi dan kesuburan tegakan hutan, melalui perbedaan kesuburan dan keadaan air tanah.
Letak tinggi menyebabkan perbedaan iklim dan mempengaruhi penyebaran tumbuhan.

c. Ilmu Tanah (Pedologi)
Tanah disebut faktor tempat tumbuh (edafologi). Jenis tanah, sifat dan keadaannya mempengaruhi penyebaran tumbuhan, tipe vegetasi, kesuburan dan produktivitas hutan.

d. Klimatologi
Iklim adalah faktor terpenting yang mempengaruhi penyebaran tumbuh-tumbuhan. Iklim mikro suatu tempat dipengaruhi keadaan topografi dapat mempengaruhi penyebaran dan oertunbuhan pohon.

e. Geografi Tumbuhan
Digunakan untuk mempelajari pola penyebaran berbagai jenis pohon dalam hubungan dengan keadaan fiik bumi, susunan dan penyebaran formasi-formasi hutan.

f. Fisiologi dan Biokimia
Mempelajari proses-proses hidup tumbuhan, menyangkut proses biokimia yang terjadi pada tumbuhan dan lingkungannya.

g. Genetika Tumbuhan

3. Status Ekologi Hutan dalam ilmu pengetahuan kehutanan
Ekologi hutan merupakan ilmu dasar terpenting dari pengetahuan silvikultur. Ekologi hutan mempelajari hutan sebagai masayarakat atau ekosistem. Sedangkan Silviks lebih terarah pada silvikultur (mendekati autekologi).

Aspek-aspek ekologi hutan yang penting untuk kehutanan adalah :
a. Mempelajari komposisi dan struktur hutan-hutan alam.
b. Mempelajari hubungan keadaan tempat tumbuh dengan :
(1) Komposisi dan struktur hutan
(2) Penyebaran suatu jenis pohon
(3) Permudaan hutan atau permudaan pohon
(4) Tumbuh dan riap hutan /pohon
(5) Fenologi pohon.

c. Mempelajari syarat-syarat keadaan tempat tumbuh untuk penanaman atau permudaan alam jenis-jenis pohon kehutanan.
d. Mempelajari siklus hara mineral, siklus air dan metabolisme.
e. Mempelajari hubungan antara kesuburan tanah, iklim dan faktor-faktor lain dengan produktivitas hutan.

II. HUTAN SEBAGAI MASYARAKAT TUMBUH-TUMBUHAN

A. Hubungan Tumbuh-tumbuhan dalam Masyarakat Hutan

Suatu masyarakat hutan adalah sekelompok tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon yang menempati suatu tempat tumbuh atau habitat, di mana terdapat hubungan timbal-balik antara tumbuh-tumbuhan itu satu sama lain dan dengan lingkungannya. Satuan masyarakat hutan disebut tegakan.

1. Persaingan
Di dalam suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan, seperti hutan, terjadi persaingan antara individu-individu dari suatu jenis (spesies) atau dari berbagai jenis, jika mereka mempunyai kebutuhan yang sama, misalnya kebutuhan akan hara mineral tanah, air, cahaya dan ruang.
Persaingan ini menyebabkan terbentuknya susunan masyarakat tumbuhan yang tertentu bentuknya (Life form-nya), macam dan banyaknya jenis dan jumlah individunya, sesuai dengan keadaan tempat tumbuhnya.
Jenis-jenis pohon tertentu mempunyai suatu zat yang dapat menghambat pertumbuhan dari anakannya sendiri. Zat penghambat tersebut disebut “Allelopathy”
Allelopathy dapat berupa :
a. Keluarnya zat dari akar untuk menghambat pertumbuhan dari tanaman sejenis atau tanaman lain.
b. Tanaman mengeluarkan zat pada daun yang kemudian tercuci air hujan, zat ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman lain.
c. Tanaman mengandunng suatu zat yang pada waktu hidup tidak bereaksi apa-apa, tetapi kalau tanaman mati, zat akan terlepas dan terurai di dalam tanah secara kimiawi atau oleh mikroorganisme. Zat yang lepas dapat mempengaruhi kehidupan tanaman sejenis dan tanaman lain.
Pada daerah tropis yang curah hujan hujannya tinggi, pengaruh zat-zat ini kemungkinan tidak nyata karena pencucian oleh air hujan.
Contoh jenis yang mengeluarkan zat allelopathy ;
– Pinus merkussi, guguran-guguran daunnya dapat menghambat pertumbuhan jenis-jenis lain, hanya jenis tertentu yang dapat bertahan, misalnya : kerinyuh (Eupatorium odoratum)
– Alang-alang, kalau suatu daerah diinvasi alang-alang. Kecendrungan alang-alang untuk berkuasa sangat besar, sehingga daerah tersebut kemungkinan ditumbuhi oleh alang-alang seluruhnya.

Di padang alang-alang Pleihari, Kalimantan Selatan yang dapat tumbuh hanya jenis laban (Vitex pubescens). Jenis Vitex ini selain tahan bersaing dengan alang-alang juga tahan terhadap api.
– Pohon pisang (Musa spp.); rumpun pisang akan melebar kew tepi karena pangkal pisang yang membusuk mengeluarkan zat yang meracun bagi jenisnya sendiri

2. Stratifikasi (lapisan tajuk/estase)

Di dalam masyarakat hutan, sebagai akibat persaingan, jenis-jenis tertentu lebih berkuasa (dominan) dari pada yang lain. Pohon-pohon tinggi dari stratum (lapisan) teratas mengalahkan atau menguasai pohon-pohon yang lebih rendah, dan merupakan jenis-jenis pohon yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. Misalnya, hutan hujan (rain forest) di Way kambas (Lampung) didominasi oleh jenis-jenis Shorea leprosula dan S. Ovalis. Kedua jenis ini bukan hanya terdapat pada stratum A (teratas) tetapi volume kayunyapun terbesar (Soerianegara, 1967)

Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropis adalah sewbagai berikut :
• Stratum A
Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya 30 meter up. Biasanya tajuknya diskontinyu, batang pohon tinggi dan lurus, batang bebas cabang (clear bole) tinggi.
Jenis-jenis pohon dari stratum ini pada waktu mudanya, tingkat semai (seedling) hingga sapihan (sapling), perlu naungan sekedarnya, tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya perlu cahaya yang cukup banyak.

• Stratum B
Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20 – 30 m, tajuknya pada umumnya kontinyu, batang pohon biasanya banyak bercabang, batang bebas cabang tidak begitu tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).

• Stratum C
Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4 – 20 m, tajuknya kontinyu. Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil, banyak cabang.
Di hutan Way Kambas (Soerianegara, 1967) stratum A yang tingginya 30 m ke atas antara lain terdiri dari jenis pohon Shorea ovalis, S. Leprosula, Dipterocarpus gracilis, Canarium littorale, C.denticulatum, Horsfieldia glabra dan Albizia lebbeckioides. Stratum B (15 – 30 m) diisi oleh jenis-jenis Glochidion borneense, Tricalysia sp., Eugenia spp., Gluta renghas, Toona sureni, Irvingia malayana dan Terminalia citrina. Stratum C ( 5 -15 m) terdiri dari jenis-jenis Mallotus subpeltattus, Eurycoma longifolia, Baccaurea racemosa dan Antidesma spp.

Batas-batas tinggi stratifikasi pohon itu akan berbeda pada keadaan tempat tumbuh dan komposisi hutan yang berlainan. Richards (1952) yang telah menyelidiki hutan-hutan hujan di Guyana, Nigeria dan Kalimantan Utara, menyatakan bahwa dalam hutan campuran (mixed rain forest) tinggi rata-rata stratum A dapat bervariasi antara 30 – 42 m, stratum B antara 18 – 27 m, dan stratum C antara 8 – 14 m.
Antara stratum A dan B perbedaannya jelas karena terdapat diskontinyu tajuk yang vertikal, tetapi antara stratum B dan C biasanya kurang jelas, hanya dapat dibedakan berdasarkan tinggi dan bentuk pohon *)
Di samping ketiga strata pohon itu terdapat pula strata perdu-semak dan tumbuh-tumbuhan penutup tanah, yaitu :

• Stratum D
Lapisan perdu dan semak, tingginya 1 – 4 meter

• Stratum E
Lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover), tinggi 0 – 1 meter.
Tidak semua hutan memiliki ketiga strata pohon tersebut di atas. Jadi ada hutan-hutan yang memiliki strata A – B atau A – C saja. Yang penting pula ialah peranan liana (tumbuhan memanjat) berkayu yang dapat merupakan bagian dari tajuik hutan.
*) Karena pohon-pohon dari lapisan A tumbuh menjulang tinggi dari tajuk hutan seringkali disebut emergents. Sedangkan lapisan B yang merupakan tajuk yang paling tebal seringkali disebut tajuk hutan utama (main canopy atau main storey)

3. Hubungan Ketergantungan (Dependence)
Beberapa jenis tumbu-tumbuhan hutan hidupnya tergantung pada yang lain dalam hal naungan, air, hara mineral dan substratum hidup atau niehe.

a. Epifit
Dalam hutan hujan tropis tumbuhan epifit banyak terdapat, yaitu anggrek, paku-pakuan. Umumnya lebih dari 19% dari pohon-pohon dalam hutan hujan tropis ditumbuhi epifit (Richards, 1952).

b. Parasit
Ada dua golongan parasit, yaitu parasit akar dan semi parasit yang tumbuh seperti epifit pada cabang-cabang pohon. Di Indonesia parasit akar yang terkenal ialah Rafflesia, sedangkan parasit cabang ialah jenis-jenis Loranthaceae (benalu).

c. Mikoriza
Mikoriza (mycorrhiza) adalah hubungan symbiosa antara pohon dengan jamur pada akar pohon. Karena tanah hutan di Indonesia pada umumnya relatif miskin akan hara mineral, maka tidak mengherankan bahwa banyak pohon hutan yang akarnya mengandung mikoriza. Di hutan pegunungan Cibodas 8 2 % dari jenis pohon yang terdapat mengandung mikoriza pada akarnya (Janse, 1897).

d. Nodul Akar
Selain mikoriza, pada akar beberapa jenis-jenis pohon didapati nodul-nodul (bintil-bintil) akar yang mengandung bakteria pengikat N (Nitrogen), misalnya pohon-pohon Podocarpus, Casuarina dan terutama jenis-jenis Leguminosae.

e. Pencekik (strangler)
Strangler adalah jenis tumbuh-tumbuhan yang mulai hidup sebagai epifit pada suatu pohon, kemudian sesudah akar-akarnya sendiri mencapai tanah dan dapat hidup sendiri, tumbuhan ini mencekik dan membunuh pohon tempatnya bertumpu. Yang terkenal adalah jenis-jenis Ficus, misalnya di hutan Way Kambas adalah Ficus rigida (bunuk).

f. L i a n a
Terdapat liana di hutan hujan tropis adalah salah salah satu ciri khas. Yang terpenting adalah liana berkayu yang dapat merupakan bagian dari hutan dan dapat mendesak tajuk hutan dan dapat mendesak tajuk pohon tempatnya bertumpu atau mengisi lubang-lubang tajuk hutan di antara beberapa pohon. Karena itu dalam sistem silvikultur “Tropical Shelterwood System”, pada tahun pertama dilakukan pemotongan liana sebagai salah satu tindakan tindakan penting dalam rangka pembukaan tajuk hutan untuk menstimulir pertumbuhan anakan pohon.

g. Hewan Hutan
Beberapa jenis pohon dalam hal pembuahan dan penyebaran biji atau benih tergantung pada hewan-jewan tertentu, seperti serangga, burung, dan kelelewar.

B. Dinamika Masyarakat Tumbuhan

Masyarakat hutan adalah suatu sistem yang hidup dan tumbuh, suatu masyarakat yang dinamis. Masyarakat hutan terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap : invasi oleh tumbuh-tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan, dan penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh dan stabilisasi. Proses ini disebut SUKSESI atau SERO.

Selama suksesi berlangsung hingga tercapai stabilisasi atau keseimbangan dinamis dengan lingkungan, terjadi pergantian-pergantian masyarakat tumbuh-tumbuhan hingga terbentuk masyarakat yang vegetasi klimaks.

Dalam masyarakat masyarakat yang sudah stabil pun selalu terjadi perubahan, misalnya karena pohon-pohon yang tua tumbang dan mati, timbullah anakan pohon atau pohon-pohon yang yang selama itu hidup tertekan. Demikian, setiap ada perubahan, akan ada mekanisme atau proses yang mengembalikan keadaan kepada keseimbanngan

a. Suksesi Primer (prisere)

Suksesi primer adalah perkembangan vegetasi mulai dari habitat yang tak bervegetasi hingga mencapai masyarakat yang stabil atau klimaks.
Tempat-tempat yang telanjang seperti air, perbatuan dan sebagainya, mula-mula diinvasi oleh tumbuhan pionir (pelopor). Pada habitat air terjadi suksesi hydrarkh (habitat basah) atau hidrosere yang dimulai oleh tumbuh-tumbuhan air (hidrofit). Pada habitat batu-batuan, terjadi suksesi xerarkh (habitat kering) atau xerosere, yang pionor-pionirnya berupa lumut kerak (lichnes), bakteri dan ganggang (algae).
Di daratan suksesi yang ideal berkembang mulai dengan masyarakat tumbuh-tumbuhan Cryptogamae (tingkat rendah), tumbuh-tumbuhan herba (terna), semak, perdu dan pohon hingga tercapai hutan klimaks. Tempat tumbuh permulaan yang tidak baik bagi kebanyakan tumbuhan berangsur-angsur menjadi lebih baik selama suksesi berlangsung.
Habitat hydrarkh lambat-laun menjadi lebih kering, sedangkan habitat xerarkh menjadi lebih lembab.

b. Suksesi Sekunder (subsere)

Suksesi sekunder terjadi apabila klimaks atau suksesi yanmg normal terganggu atau dirusak, misalnya oleh kebakaran, perladangan, penebangan, penggembalaan dan kerusakan lainnya. Jika gangguan atau kerusakan itu tidak hebat maka suksesi sekunder ini dapat mencapai klimaks semula. Tetapi sering kali kerusakan yang terjadi adalah berat, keadaan tanah dan air terganggu sekali, sehingga klimaks yang asal tak mungkin dapat dicapai lagi. Maka tercapailah apa yang disebut Disklimaks.

Jika hutan hujan tropis mengalami kerusakan oleh alam atau manusia (perladangan atau penebangan) maka suksesi sekunder yang terjadi biasanya dimulai dengan vegetasi rumput dan semak. Kalau keadaan tanahnya tak banyak menderita kerusakan oleh erosi, maka setelah 15 – 20 tahun akan terjadi hutan sekunder muda, dan sesudah 50 tahun terjadi hutan sekunder tua yang secara berangsur-angsur akan mencapai klimaks.

VEGETASI KLIMAKS
HUTAN

p
r
i
s
e
r
e

S
u
b
s
e
r
e
Gangguan

Vegetasi
Perdu Pohon

Vegetasi
Semak – Belukar

Vegetasi
Rumput – Herba Semak kecil

Vegetasi Cryptogamae

Permukaan tanah telanjang Vegetasi Terganggu

c. Paham-paham Klimaks
(1) Monoklimaks
Paham monoklimaks beranggapan bahwa pada suatu daerah iklim hanya ada satu macam klimaks, yaitu suatu formasi klimaks yang paling mesophytik (terdapat pada tempat tumbuh yang berkualita pertengahan dalam hal perimbangan keadaan air). Jadi dapat dikatakan bahwa klimaks adalah suatu pencerminan keadaan iklim. Di samping iklim sebagai faktor yang paling stabil dan berpengaruh, terdapat pula faktor-faktor lain atau profaktor-profaktor, seperti faktor tanah , fisiografi dan biotik. Profaktor- profaktor ini menyebabkan terbentuknya proklimaks-proklimaks sebagai berikut :
• Subklimaks
Terjadi apabila perkembangan vegetasi terhenti di bawah tingkat terakhir di bawah klimaks, sebagai akibat faktor-faktor bukan iklim, misalnya karena keadaan geografi seperti keadaan di Pulau Krakatau.
• Proklimaks dan Posklimaks
Apabila pembentukan klimaks menyimpang dari tipe yang sewajarnya, misalnya, akibat dari keadaan fisiografi. Keadaan yang lebih lembab dan lebih baik menghasilkan posklimaks, sedangkan keadaan yang lebih kering dan kurang baik menghasilkan proklimaks.
• Disklimaks
Terjadi sebagai akibat beberapa gangguan sekunder tak dapat berkembang lagi ke arah klimaks karena keadaan tempat tumbuh amat berubah menjadi buruk, misalnya terhenti pada tingkat semak-belukar.

(2) Polyklimaks
Paham ini beranggapan bahwa t5idak hanya iklmi yang dapat menumbuhkan kilmaks. Menurut paham ini ada beberapa macam klimaks yaitu : Klimaks iklim, klimaks edafis, klimaks fisiografi, klikmaks kebakaran dan sebagainya.
Jadi suatu subklimaks yang disebabkan oleh keadaan tanah mungkin merupakan klimaks edafis menurut paham ini.

Bagan Suksesi primer menurut paham Monoklimaks :

KLIMAKS
Hutan Hujan Tanah Rendah

Hutan payau
Bruguiera – Xylocarpus
↑ Hutan
Neonauclea-Ficus

Hutan payau
Rhizophora – Bruguiera
↑ Hutan
Ficus – Macaranga

Hutan payau
Avicennia Vegetasi rumput
Neyaraudia-Saccharum

Vegetasi Cryptogamae

HIDROSERE pada LUMPUR PAYAU XEROSERE pada TUF BATU KERING

Tetapi untuk golongan polyklimaks, hutan payau adalah suatu klimaks tersendiri, yaitu klimaks edafis, karena keadaan tanah yang khusus. Untuk Indonesia yang terdapat banyak variasi tanah, fisiografi, geografi dan iklim, paham polyklimaks lebih sesuai.
d. Klasifikasi hutan menurut cara terjadinya
Meijer Dress (1950) menganggap perlu adanya klasifikasi hutan berdasarkan cara terjadinya.
(1) Hutan Alam
(a) Hutan Alam Primer
• Hutan Asli (cerwood)
• Hutan Alam Primer Tua
• Hutan Alam Primer Muda

(b) Hutan Alam Sekunder
• Hutan banjir (overstromingsbos)
• Hutan vulkanogen
• Hutan erosi
• Hutan kebakaran alam
• Hutan penggembalaan alam

(2) Hutan Anthropogmi (hutan buatan)
(c) Hutan Anthropogen primer (Permudaan hutan alam)
• Hutan seleksi primer
• Hutan trubusan (opslag) primer
(d) Hutan Anthropogen sekunder
• Hutan penggembalaan anthropogen
• Hutan kebakaran anthropogen
• Hutan ladang
• Hutan tanaman
• Hutan trubusan sekunder

III. KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN

A. Satuan-Satuan Klasifikasi
Masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam arti luas disebut vegetasi. Satuan vegetasi hutan yang terbesar (major vegetation unit) adalah formasi hutan. Untuk daerah tropika pembedaan antara formasi-formasi hutan dapat bertolak dari perbedaan iklim, fisiognomi (struktur) hutan, perbedaan habitat terutama tanah dan letak tinggi, dan sejarah perkembangannya (suksesi)
Assosiasi hutan adalah satuan-satuan di dalam formasi hutan yang diberi nama menurut jenis-jenis pohon yang dominan. Dalam klasifikasi vegetasi hutan, asosiasi adalah satuan dasar (basic unit) dari klasifikasi, sebagaimana halnya kedudukan spesies (jenis) di dalam sistematik atau taksonomi tumbuh-tumbuhan.
Apabila yang dihadapi adalah suatu hutan yang sedang mengalami suksesi sekunder (subsere), maka satuannya disebut asosies.
Biasanya suatu asosiasi hutan menempati wilayah yang luas. Bagiaan dari asosiasi hutan yang betul-betul diselidiki dan diketahui komposisi jenis-jenis pohonnya disebut Asosiasi Konkrit. Asosiasi-asosiasi hutan yang berlainan komposisinya tetapi memiliki fisiognomi yang bersamaan, digolongkan ke dalam satu formasi hutan.
Dalam taksonomi tumbuh-tumbuhan dikenal variasi di dalam spesies, yaitu disebut subspesies, varietas atau ekotype. Di dalam asosiasi hutan variasi tersebut disebut varian-varian.
Pada hutan campuran, varian-varian disebabkan oleh adanya jenis-jenis pohon yang lebih
B. Sistem-Sistem Klasifikasi Vegetasi Hutan Tropika
C. Klasifikasi Vegetasi Hutan di Indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: