SOCIAL FORESTRY

SOCIAL FORESTRY
By : Mohammad Aqsa, S.Hut
Kuliah I
Strategi Kehutanan Konvensional :
1. Timber Extraction (TE)
2. Timber Management ™
Strategi Social Forestry adalah SF

Sifat Timber Extraction :
1. Selalu melekat dengan kekuasaan negara yang besar (perdagangan)
2. TE akan besar jika negara mampu melakukan perdagangan secara besar-besaran.

Timber Extraction (TE) :
1. Mesopotamia : 3500 – 1000 SM (berakhir dg kehancuran)
2. Eropa : 300SM – 1000M (berakhir dg munculnya TM)
3. Jawa : 800 – 1800
4. Luar Jawa : 1960 – 1998 (efektif 1972 – 1992)
Kegiatan TE :
1. Penebangan
2. Pengolahan : pemotongan, penggergajian
3. Pemasaran/penjualan
Kegiatan TM :
1. Pemanenan
2. Pembangunan
3. Pemeliharaan
4. Pengolahan
5. Pemasaran

Perbedaan Penebangan Vs Pemanenan :
• Penebangan : finacial oriented tanpa memperhatikan kelestarian, target tebangan menjadi dasar tebangan
• Pemanenan : memperhatikan aspek kelestarian (ada perhitungan etat)
Perbedaan Penanaman VS Pembangunan :
• Penanaman : sebatas penanaman tanpa memikirkan keberhasilannya
• Pembangunan : penanaman sampai berhasil. Dikatakan berhasil jika bebas dari hama, gulma, penyakit, dll.

Mengapa etat penting ? :
Karena management hutan dirancang untuk kelestarian selama daur dimana etat merupakan riap pertumbuhan, jadi etat akan menentukan tebangan.

Timber Management menghasilkan jasa yang besar antara lain :
1. Ilmu kehutanan berkembang dengan pesat termasuk perencanaan hutan
2. Suplai kayu meningkat dan stabil
3. Industri perkayuan berkembang pesat karena point 2 (menghasilkan kertas)
4. Kemakmuran : lapangan kerja, ekspor meningkat
5. Kebudayaan meningkat karena peranan kertas

Mengapa TM ditinggalkan ? :
1. Tidak menjamin kelestarian. Laju penebangan jauh lebih besar dibandingkan dengan penanaman akibat adanya pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan dan konsumsi pangan, ky bakar dan kayu pertukangan

Mengapa TM ditinggalkan ? :
1. Tidak menjamin kelestarian. Laju penebangan jauh lebih besar dibandingkan dengan penanaman akibat adanya pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan dan konsumsi pangan, ky bakar dan kayu pertukangan
2. Tanamannya monokultur : rawan penyakit, erosi, dll.
Masalah-masalah TM :
1. Lingkungan/ekosistem : jelek karena monokultur dan khususnya di Eropa menimbulkan hujan asam sehingga riap pohon menurun dan umur daur menjadi pendek
2. Masalah sosial ekonomi : khusus di negara-negara berkembang, pertumbuhan populasi yang cepat tidak mampu diatasi oleh TM

Kuliah II
SEJARAH MUNCULNYA SF

Kongres Kehutanan tahun 1960 (World Forest Congress/WFC) dengan tema : Multiple Use of Forest Land di Seattle AS.
Latar belakang tema WFC :
“Kerusakan hutan di seluruh negara berkembang meningkat secara cepat sebagai akibat perkembangan penduduk. Perkembangan penduduk terjadi pasca PD II, yaitu setelah negara-negara berkembang merdeka.”

Bagi FAO, kecepatan kerusakan hutan (extensif forest degradation) ini sangat mencengangkan karena :
1. Perkembangan jumlah penduduk yang terjadi secara cepat
2. Negara-negara berkembang baru menikmati kemerdekaannya, sehingga pemerintah melakukan pembangunan di segala sektor termasuk sektor pendidikan dan kesehatan. Dalam waktu singkat, kesehatan yang baik menyebabkan penduduk tumbuh dengan cepat, kebutuhan perumahan dan pertanian juga meningkat
3. Pengelolaan hutan di negara berkembang belum ada, belum ada TM sehingga lebih mudah menghancurkan hutan (TE).
4. Masalah kemiskinan meningkat secara cepat karena pembangunan tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja sehingga banyak pengangguran
Dengan tema WFC tahun 1960 berarti bahwa :
1. Ada upaya atau peringatan bahwa TM sudah tidak lagi relefan dengan kondisi saat itu
2. TM dianggap sebagai paradigma pengelolaan hutan yang sudah ketinggalan zaman dalam konteks : penduduk banyak, belum ada TM dan kemiskinan
3. Hasil hutan yang diharapkan tidak hanya kayu tetapi multiple use melalui hutan campur, Hutan rakyat, pekarangan yang mampu menghasilkan produk hasil hutan non kayu (ternak, kayu bakar, tanaman obat-obatan, dll) seperti di Afrika

Tema WFC tahun 1960 tidak ada kemajuan karena :
“tidak ada perusahaan yang tertarik dengan hutan campur yang berbasis konservasi. Ada pertentangan antara ekonom seperti Von Karlowitz dengan konservasionist (Karl Gayer), ekonom selalu menang dalam setiap perdebatan sehingga dunia ini dikuasai oleh kapitalis. Keuntungan dan perencanaannya sulit, dan industri tidak mau.

Penyebab kerusakan hutan pasca PD II :
1. Perkembangan jumlah penduduk yang cepat
2. Belum ada pengelolaan hutan ™ di negara berkembang
3. Kemiskinan : perkembangan penduduk yang pesat tidak diikuti dengan perkembangan lapangan kerja sehingga banyak pengangguran.
Pengertian Petani Kaya : “petani yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (pangan) dalam satu tahun. Indikatornya adalah punya lumbung pangan.

Sifat-sifat / Ciri-ciri TM :
1. Tujuannya sudah given (kayu pertukangan dan keuntungan perusahaan)
2. Monokultur (khusus jati)
3. Ekstensif : meliputi areal kawasan hutan yang luas (bagian hutan)
4. Perencanaan mudah
5. Pengelolaan mudah
6. Keuntungan finansial yang banyak hanya untuk perusahaan dengan memposisikan rakyat hanya sebagai tenaga kerja murah
7. Akibat point 6, maka menyebabkan masyarakat sekitar hutan tetap miskin sehingga terjadi pencurian.
8.
Bagaimana bentuk pengelolaan hutan serba guna (multiple use forest) ?:
1. Di Jawa melakukan penanaman kembali areal-areal kosong dengan tanaman cepat tumbuh (daur pendek  40 th) : salah kaprah.
2. Muncul kelas-kelas perusahaan (KP) selain KP Jati seperti KP kayu lain (kayu putih, lak/kesambi, sutera alam, gondorukem/pinus, dll) tetapi hasilnya masih di bawah hasil kayu jati
3. Muncul Agroforestry setelah Kongres Kehutanan VIII di Jakarta th 1978 dengan Tema : Forest For People, yang kemudian melahirkan :
a. Melahirkan paradigma baru yang disebut Social Forestry
b. Muncul istilah Community Forestry, AF (FAO menggunakan istilah CF; Bank Dunia menggunakan SF)
Munculnya SF menyebabkan paradigma TM ditinggalkan. Mengapa ditinggalkan padahal jasanya besar ? :
1. TM di Jerman yang monokultur menyebabkan munculnya hujan asam
2. Adanya kerusakan hutan yang luas di negara-negara berkembang
3. Jumlah penduduk yang besar di negara-negara berkembang
4. Kemiskinan meningkat
5. Tidak menjamin kelestarian : laju penebangan jauh lebih besar daripada penanaman
Perbedaan SF, AF, TS
SF = Strategi pengelolaan AF : belum tentu SF
AF = teknik bercocok tanam TS = AF tetapi AF di Perhutani = TM.

PHJO di Jawa merupakan salah satu bentuk SF : Madiun & Tangen
Di Kanada dikenal dengan istilah Model Forest (1991) yang telah dikembangkan di 11 negara federal

PHJO : berangkat dari TM
Model Forest : pada awalnya lebih banyak sosialnya
TM : digarap sendiri oleh Forester

Paradigma SF :
Setelah kongres kehutanan VIII, kehutanan digarap oleh berbagai latar belakang profesi yang tidak hanya Forester tetapi juga dari disiplin lain terutama Antropolog. Sosiolog, Ekonom, Ahli Hukum. Non forester muncul karena : forester lebih cenderung untuk konservatif, tidak peka dengan inovasi sehingga banyak riset-riset station banyak ditangani oleh Antropolog spt Prof. Roy dg Joint Forest Management (JFM) di India.

Non Forester VS Forester :
Non Forester : Melihat kehutanan dalam hubungannya dengan indegenous people/local people (masyarakat lokal) yang semuanya berkaitan dengan keterbelakangan dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dll. Non forester tidak tahu teknik kehutanan sehingga pendekatannya adalah Sosial ekonomi masyarakat
Forester : Sosial Ekonomi masyarakat + TM

Ciri-ciri SF :
1. Merubah monokultur menjadi polikultur
2. Karena monokultur maka mempunyai daur ganda
3. Intensif (petak sebagai unit managemen)
4. Partisipasi masyarakat. Menempatkan masyarakat sebagai mitra sejajar (abad 20) dan tahun 1994 muncul stakeholders (para pihak yang berkentingan)
5. Pengelola hutan tidak hanya pemerintah tetapi para pihak (multi stake holders). Oleh karena itu maka pelaksanaan SF menjadi rumit karena banyak komando. Merangkul para stakeholders dan merumuskan perencanaan merupakan tantangan untuk mewujudkan SF
6. Perubahan perencanaan (perencanaan artikulatif)

Kuliah III (03 April 2004)
PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY

Ada 2 pendekatan dalam SF :
1. Pendekatan Forester :
a. Forester lebih mengetahui ilmu-ilmu dasar *) TM dan ilmu-ilmu dasar ini tidak mungkin dikuasai oleh Non-Forester
b. Pendekatannya menerapkan TM + Sosial ekonomi masyarakat
c. Forester melihat SDH terlebih dahulu kemudian melihat masyarakat : apa yang dapat disumbangkan oleh SDH kepada masyarakat.
d. Pendekatan perencanaannya : perencanaan artikulatif
2. Pendekatan Non-Forester :
a. Non-forester langsung melihat masyarakatnya : apa kebutuhan masyarakat yang dapat dipenuhi dari SDH
b. Pendekatannya berdasarkan Sosial ekonomi masyarakat
c. Pendekatan perencanaannya : pendekatan partisipatif

*) Ilmu-ilmu dasar TM :
a. Silviks d. Pengaturan Hasil Hutan
b. Silvikultur e. Organisasi Wilayah / Houtvesterij
c. Ilmu Ukur Kayu
A, B & C = merupakan ilmu dasar yang hanya diperoleh dari kehutanan
D = berkembang menjadi : Inventore, Nilai Hutan, Perencanaan Hutan.

Pendekatan Non-Forestere dan Forester digabung jadi satu

TM yang dibuat oleh forester :
1. Perspektif waktunya 1 (satu) daur dengan hanya mengambil jangka pertama selama daur. Mengapa hanya 1 daur ? Karena semakin jauh atau semakin lama waktu perencanaan itu di susun maka semakin banyak erornya (ada ketidak pastian). Pada jangka kedua, perencanaan dibuat ulang dengan jangka waktu juga satu daur.
2. Metode TM ini akan memuaskan kalau unsur-unsur yang diperlukan dalam perencanaan itu menghasilkan data yang akurat
3. Data yang diperlukan dalam TM terbatas pada data SDH-nya

Mengapa TM ditinggalkan ? :
1. Tidak menjamin kelestarian. Laju penebangan jauh lebih besar dibandingkan dengan penanaman akibat adanya pertambahan penduduk yang membutuhkan lahan dan konsumsi pangan, ky bakar dan kayu pertukangan
2. Tanamannya monokultur : rawan penyakit, erosi, dll.
Masalah-masalah TM :
1. Lingkungan/ekosistem : jelek karena monokultur dan khususnya di Eropa menimbulkan hujan asam sehingga riap pohon menurun dan umur daur menjadi pendek
2. Masalah sosial ekonomi : khusus di negara-negara berkembang, pertumbuhan populasi yang cepat tidak mampu diatasi oleh TM

Kuliah II
SEJARAH MUNCULNYA SF

Kongres Kehutanan tahun 1960 (World Forest Congress/WFC) dengan tema : Multiple Use of Forest Land di Seattle AS.
Latar belakang tema WFC :
“Kerusakan hutan di seluruh negara berkembang meningkat secara cepat sebagai akibat perkembangan penduduk. Perkembangan penduduk terjadi pasca PD II, yaitu setelah negara-negara berkembang merdeka.”

Bagi FAO, kecepatan kerusakan hutan (extensif forest degradation) ini sangat mencengangkan karena :
1. Perkembangan jumlah penduduk yang terjadi secara cepat
2. Negara-negara berkembang baru menikmati kemerdekaannya, sehingga pemerintah melakukan pembangunan di segala sektor termasuk sektor pendidikan dan kesehatan. Dalam waktu singkat, kesehatan yang baik menyebabkan penduduk tumbuh dengan cepat, kebutuhan perumahan dan pertanian juga meningkat
3. Pengelolaan hutan di negara berkembang belum ada, belum ada TM sehingga lebih mudah menghancurkan hutan (TE).
4. Masalah kemiskinan meningkat secara cepat karena pembangunan tidak diikuti dengan penyediaan lapangan kerja sehingga banyak pengangguran
Dengan tema WFC tahun 1960 berarti bahwa :
1. Ada upaya atau peringatan bahwa TM sudah tidak lagi relefan dengan kondisi saat itu
2. TM dianggap sebagai paradigma pengelolaan hutan yang sudah ketinggalan zaman dalam konteks : penduduk banyak, belum ada TM dan kemiskinan
3. Hasil hutan yang diharapkan tidak hanya kayu tetapi multiple use melalui hutan campur, Hutan rakyat, pekarangan yang mampu menghasilkan produk hasil hutan non kayu (ternak, kayu bakar, tanaman obat-obatan, dll) seperti di Afrika

Tema WFC tahun 1960 tidak ada kemajuan karena :
“tidak ada perusahaan yang tertarik dengan hutan campur yang berbasis konservasi. Ada pertentangan antara ekonom seperti Von Karlowitz dengan konservasionist (Karl Gayer), ekonom selalu menang dalam setiap perdebatan sehingga dunia ini dikuasai oleh kapitalis. Keuntungan dan perencanaannya sulit, dan industri tidak mau.

Penyebab kerusakan hutan pasca PD II :
1. Perkembangan jumlah penduduk yang cepat
2. Belum ada pengelolaan hutan ™ di negara berkembang
3. Kemiskinan : perkembangan penduduk yang pesat tidak diikuti dengan perkembangan lapangan kerja sehingga banyak pengangguran.
Pengertian Petani Kaya : “petani yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (pangan) dalam satu tahun. Indikatornya adalah punya lumbung pangan.

Sifat-sifat / Ciri-ciri TM :
1. Tujuannya sudah given (kayu pertukangan dan keuntungan perusahaan)
2. Monokultur (khusus jati)
3. Ekstensif : meliputi areal kawasan hutan yang luas (bagian hutan)
4. Perencanaan mudah
5. Pengelolaan mudah
6. Keuntungan finansial yang banyak hanya untuk perusahaan dengan memposisikan rakyat hanya sebagai tenaga kerja murah
7. Akibat point 6, maka menyebabkan masyarakat sekitar hutan tetap miskin sehingga terjadi pencurian.
8.
Bagaimana bentuk pengelolaan hutan serba guna (multiple use forest) ?:
1. Di Jawa melakukan penanaman kembali areal-areal kosong dengan tanaman cepat tumbuh (daur pendek  40 th) : salah kaprah.
2. Muncul kelas-kelas perusahaan (KP) selain KP Jati seperti KP kayu lain (kayu putih, lak/kesambi, sutera alam, gondorukem/pinus, dll) tetapi hasilnya masih di bawah hasil kayu jati
3. Muncul Agroforestry setelah Kongres Kehutanan VIII di Jakarta th 1978 dengan Tema : Forest For People, yang kemudian melahirkan :
a. Melahirkan paradigma baru yang disebut Social Forestry
b. Muncul istilah Community Forestry, AF (FAO menggunakan istilah CF; Bank Dunia menggunakan SF)
Munculnya SF menyebabkan paradigma TM ditinggalkan. Mengapa ditinggalkan padahal jasanya besar ? :
1. TM di Jerman yang monokultur menyebabkan munculnya hujan asam
2. Adanya kerusakan hutan yang luas di negara-negara berkembang
3. Jumlah penduduk yang besar di negara-negara berkembang
4. Kemiskinan meningkat
5. Tidak menjamin kelestarian : laju penebangan jauh lebih besar daripada penanaman
Perbedaan SF, AF, TS
SF = Strategi pengelolaan AF : belum tentu SF
AF = teknik bercocok tanam TS = AF tetapi AF di Perhutani = TM.

PHJO di Jawa merupakan salah satu bentuk SF : Madiun & Tangen
Di Kanada dikenal dengan istilah Model Forest (1991) yang telah dikembangkan di 11 negara federal

PHJO : berangkat dari TM
Model Forest : pada awalnya lebih banyak sosialnya
TM : digarap sendiri oleh Forester

Paradigma SF :
Setelah kongres kehutanan VIII, kehutanan digarap oleh berbagai latar belakang profesi yang tidak hanya Forester tetapi juga dari disiplin lain terutama Antropolog. Sosiolog, Ekonom, Ahli Hukum. Non forester muncul karena : forester lebih cenderung untuk konservatif, tidak peka dengan inovasi sehingga banyak riset-riset station banyak ditangani oleh Antropolog spt Prof. Roy dg Joint Forest Management (JFM) di India.

Non Forester VS Forester :
Non Forester : Melihat kehutanan dalam hubungannya dengan indegenous people/local people (masyarakat lokal) yang semuanya berkaitan dengan keterbelakangan dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dll. Non forester tidak tahu teknik kehutanan sehingga pendekatannya adalah Sosial ekonomi masyarakat
Forester : Sosial Ekonomi masyarakat + TM

Ciri-ciri SF :
1. Merubah monokultur menjadi polikultur
2. Karena monokultur maka mempunyai daur ganda
3. Intensif (petak sebagai unit managemen)
4. Partisipasi masyarakat. Menempatkan masyarakat sebagai mitra sejajar (abad 20) dan tahun 1994 muncul stakeholders (para pihak yang berkentingan)
5. Pengelola hutan tidak hanya pemerintah tetapi para pihak (multi stake holders). Oleh karena itu maka pelaksanaan SF menjadi rumit karena banyak komando. Merangkul para stakeholders dan merumuskan perencanaan merupakan tantangan untuk mewujudkan SF
6. Perubahan perencanaan (perencanaan artikulatif)

Kuliah III (03 April 2004)
PENDEKATAN SOCIAL FORESTRY

Ada 2 pendekatan dalam SF :
1. Pendekatan Forester :
a. Forester lebih mengetahui ilmu-ilmu dasar *) TM dan ilmu-ilmu dasar ini tidak mungkin dikuasai oleh Non-Forester
b. Pendekatannya menerapkan TM + Sosial ekonomi masyarakat
c. Forester melihat SDH terlebih dahulu kemudian melihat masyarakat : apa yang dapat disumbangkan oleh SDH kepada masyarakat.
d. Pendekatan perencanaannya : perencanaan artikulatif
2. Pendekatan Non-Forester :
a. Non-forester langsung melihat masyarakatnya : apa kebutuhan masyarakat yang dapat dipenuhi dari SDH
b. Pendekatannya berdasarkan Sosial ekonomi masyarakat
c. Pendekatan perencanaannya : pendekatan partisipatif

*) Ilmu-ilmu dasar TM :
a. Silviks d. Pengaturan Hasil Hutan
b. Silvikultur e. Organisasi Wilayah / Houtvesterij
c. Ilmu Ukur Kayu
A, B & C = merupakan ilmu dasar yang hanya diperoleh dari kehutanan
D = berkembang menjadi : Inventore, Nilai Hutan, Perencanaan Hutan.

Pendekatan Non-Forestere dan Forester digabung jadi satu

TM yang dibuat oleh forester :
1. Perspektif waktunya 1 (satu) daur dengan hanya mengambil jangka pertama selama daur. Mengapa hanya 1 daur ? Karena semakin jauh atau semakin lama waktu perencanaan itu di susun maka semakin banyak erornya (ada ketidak pastian). Pada jangka kedua, perencanaan dibuat ulang dengan jangka waktu juga satu daur.
2. Metode TM ini akan memuaskan kalau unsur-unsur yang diperlukan dalam perencanaan itu menghasilkan data yang akurat
3. Data yang diperlukan dalam TM terbatas pada data SDH-nya

Prosedur Kegiatan/Perencanaan TM :

Tujuan
(Given)
Inventore

Etat
Rencana Pemanenan
Rencana Tanaman
Rencana Pengolahan
Rencana Pemeliharaan
Rencana Pemasaran
Rencana Anggaran
Selesai

Dalam SF, data yang dikumpulkan adalah data Sosial ekonomi masyarakat :
1. Data kependudukan (jumlah penduduk dan perkembangannya) :
d. Kelas umur : produktif – tak produktif
e. Pendidikan
f. Angkatan kerja total
g. Angkatan kerja desa hutan
h. Angkatan kerja kota dan urban
2. Kegiatan penduduk yang utama dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari misalnya sebagai petani, pedagang, penjual jasa, PNS, industrialis, dll. Kegiatan utama ini menjadi kegiatan yang penting.
3. Menghitung Kebutuhan dasar masyarakat (konsumsi kebutuhan dasar) dan perkembangannya : kebutuhan dasar dan perkembangannya dapat dihitung berdasarkan data jumlah penduduk. Kebutuhan dasar penduduk meliputi :
a. Pangan (beras, jagung, ubi-ubian)
b. Papan/tempat tinggal (konsumsi kayu pertukangan : rumah dan perlatannya yang berasal dari kayu)
c. Kayu bakar/energi (listrik, gas, minyak, kayu). Energi ini berhubungan dengan kemakmuran.
Kebutuhan dasar ini harus dihitung berapa konsumsi pangan, konsumsi kayu pertukangan dan konsumsi kayu bakar dan hasil perhitungan kebutuhan dasar ini dihubungkan dengan perkembangan kependudukan dan kemudian diproyeksikan ke depan untuk membuat rencana.

Untuk menghitung konsumsi kayu bakar rumah tangga (RT) dipengaruhi oleh :
a. Pendapatan perkapita
b. Pendidikan
c. Jumlah anggota keluarga
d. Teknologi
e. Suplai/ketersediaan bahan baku
f. Substitusi
Setelah konsumsi kayu bakar RT diketemukan besarnya saat ini berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadapnya, kemudian lakukan prediksi konsumsi kayu bakar ke depan misal : 20 – 40 tahun yang akan datang. Bagaimana cara prediksinya :
• Lihat ragam antar strata dari ke-enam aspek yang berpengaruh di atas
• Pilih masyarakat dari aspek supply :
– Masayarakat desa hutan
– Masayarakat pertanian lihat mana yang paling
– Masyarakat perkotaan menonjol diantara ketiganya
• Buat stratifikasi keragaman antar 6 aspek tersebut di atas antara masyarakat desa hutan, masyarakat desa pertanian dan masyarakat desa perkotaan.

Kegiatan penduduk utama (point 2) ini menjadi kegiatan yang penting. Oleh karena itu sub-sistem kehutanan berada dalam sub-sistem lain, yaitu :
• Sub-sistem Sosial
• Sub-sistem Pertanian
• Sub-sistem pemerintahan, dll.

Dalam SF, kehutanan harus melibatkan Sub-sistem lain yang mempunyai hubungan erat dengan sub-sistem kehutanan. Semakin banyak variable sub-sistem yang terkait dengan kehutanan maka hubungan atau koefisien korelasinya semakin lemah. Jumlah sub-sistem yang mempunyai hubungan erat (ideal) maksimum 3-4 sub-sistem.Oleh karena itu dalam SF kita hanya akan menjumpai 3-4 sub-sistem.

Model perencanaan dalam SF adalah perencanaan artikulatif (gabungan antara TM + SEM dengan perspektif waktu jangka panjang (satu daur).

Dalam SF, masalah-masalah sosial di atas harus dilakukan rekayasa-rekayasa alternatif atau skenario sehingga dapat diperoleh suatu keputusan yang tegas dalam perencanaan hutannya ke depan. Alternatif harus dikembangkan sehingga lebih mendekati hasil yang dinginkan. Jadi alternatif harus lebih dari satu dan selalu berubah-ubah setiap saat.
Bagi forester, informasi SEM akan menjadi dasar pertimbangan demand terhadap SDH sehingga kemudian akan menjadi dasar untuk perencanaan supply dari sub-sistem kehutanan hingga memberikan hasil yang cukup untuk pemenuhan demand tersebut.

Prosedur Perencanaan SF
Tujuan
(tentatif)
Inventore
Rekayasa Sistem Pengelolaan
Simulasi Model Pengelolaan
Selesai

Bagaimana membangun SF :
Lihat Timber Management di Indonesia :
1. Hutan tanaman jati di Jawa :
a. Tahun 1808 – 1849 : membangun wacana
b. Tahun 1849 – 1892 : persiapan
c. Tahun 1892 – 1942 : pelaksanaan
Tahun 1849 – 1892 : membentuk Tim Mollier dan muncul konsep Houtvester
2. Hutan tanaman non-jati di Jawa : Pinus (1930), Mahoni, Kayu putih, Murbei, Lak (1960)  gagal
3. Luar Jawa
a. Gerakan Reboisasi (1974, 1982 : sengon, pinus, eukaliptus)  gagal
b. HTI (1983) : tidak semua berhasil dan sementara ini baru A. Mangium (kualitas untuk kayu pertukangan dan pulp cukup baik).

Dari ketiga kegiatan TM di atas (gagal)  bagaimana membangun TM agar berhasil? :
• Buat organisasi yang baik (organisasi tanaman, pemeliharaan, dll)
• Sesuaikan dengan sifat dan karakteristik pertumbuhan/tumbuhnya pohon

TIMBER MANAGEMENT

Tahun 1950-an, TM tidak ada perkembangan, muncul masalah sosial yang tidak dimengerti oleh pengelola hutan waktu itu. Rimbawan Belanda waktu itu tinggal sedikit dan terlalu sibuk mengajar di PT. Tahun 1957 rimbawan Belanda meninggalkan Indonesia, sehingga pengelolaan hutan dengan TM berakhir. Pengelolaan hutan beralih ke Jawatan Kehutanan, tahun 1963 diganti dengan nama PN. Perhutani tetapi yang tingkat kerusakan hutan semakin meningkat hingga sekarang.

Perhutani : Tidak mampu mengembangkan inovasi problematik yang berkembang tetapi mampu membuat tanaman dan pemanenan yang baik, akan tetapi tidak mampu mempertahankan tanaman sampai akhir daur karena Perhutani lebih terfokus pada hasil kayu dibanding hasil hutan lain dan persolan sosial di sekitarnya.

TE  TM :
1967 : di luar Jawa (HPH)
1974 : adopsi TPI tetapi tidak jalan  TPTI, juga tidak jalan  THPB  THPA, juga tidak berhasil tetapi jalan terus.
1974 : reboisasi untuk membangun TM namun gagal total (korupsi)
1983 : HTI sebagai salah satu bentuk TM, beberapa diantaranya sudah ada yang berhasil
1892 – 1942 : TM dengan Djatibejrif, cukup berhasil

Bagaimana Proses munculnya SF :
1. SF muncul karena adanya kerusakan hutan yang luas di nagara-negara yang sedang berkembang yang justru belum mampu melaksanakan TM. Penyebab kerusakan hutan pada era TM :
a. perkembangan penduduk
b. kekurangan lapangan kerja
c. kekurangan kayu pertukangan, kayu bakar dan pangan
2. Pertambahan jumlah penduduk yang cepat dan banyak, membutuhkan lahan pekerjaan, lahan usaha, kebutuhan pangan, kayu bakar dan kayu pertukangan
3. TM tidak mampu memecahkan permasalahan di atas (point 1 & 2) :
a. TM hanya dilaksanakan oleh skala perusahaan
b. TM keuntungannya hanya untuk perusahaan
c. Karena monokultur, maka ekologisnya tidak sehat (hujan asam)
Idealnya : keuntungan bukan hanya untuk pengelola (perusahaan) tetapi juga untuk masyarakat, skala usaha kecil, menengah dan besar
4. Monokultur dalam TM ternyata tidak mampu memecahkan masalah lingkungan hidup (seperti acid rain)  polikultur

Karakteristik (Kelemahan) TM :
1. Perencanaan hutannya konvensional
2. Bersifat top daown
3. Kaku/rigid
4. Tidak mampu mengakomodasi problematik sosial yang beragam di setaip daerah
Atas kelemahan TM ini, maka muncul bentuk-bentuk perencanaan baru yang prinsipnya menggunakan prinsip-prinsip perencanaan pembangunan yang muncul pada pasca PD II.

Mengapa perencanaan hutan mutlak diperlukan ?:
1. Kehutanan mempunyai jangka waktu produksi yang panjang
2. Karena waktu produksi panjang maka selalu berhadapan dengan ketidakpastian
3. Kehutanan berhadapan dengan sistem yang kompleks (kayu sebagai produk sekaligus kayu sebagai sumber produk; berproduksi berarti menghabiskan produknya)
4. Kehutanan menghadapi wilayah yang luas dengan topografi yang sulit
5. Kehutanan menghadapi problem-problem masyarakat yang ada di sekitar hutan bahkan yang jauh sekalipun

Prinsip perencanaan pembangunan :
1. Perencanaannya bersifat kompleks karena berhadapan dengan masalah sosek masyarakat yang lebih kompleks dan dinamis
2. Hasil yang diharapkan tidak hanya kayu bahkan juga masalah lingkungan hidup.

Perencanaan SF :
1. Seperti halnya perencanaan pembangunan, perencanaan SF tidak berdiri sendiri tetapi merupakan perencanaan yang berangkai atau berintegrasi dengan perencanaan-perencanaan yang lain, baik vertikal (berjenjang : nasional  regional  distrik) maupun horizontal (dg sektor lain).
2. Perencanaan SF harus dapat mengakomodasikan ragam fisik dan sosek masyarakat yang cukup besar
3. Oleh karena point 2, maka SF harus bersifat bottom-up
4. Karena bottm-up dan kompleks, serta pengalaman belum ada maka lahirlah perencanaan partisipatif yang dikembangkan oleh Antropolog dan Sosiolog
5. Perencanaan partisipatif : demokratis, pemberdayaan, bottom-up, tetapi belum yakin apa yang akan dilakukan  mereka menanyakan kepada masyarakat apa yang mereka inginkan, disamping itu mereka meminta dukungan dari masayarakat untuk menguatkan perencanaan partisipatif tersebut. Contoh hasil perencanaan partisipatif : di Lampung : hanya ada tanaamn durian, mangga  tidak terjadi proses pembentukan humus.
6. Karena perencanaan partisipatif tidak tahu apa yang akan dilakukan  muncul perencanaan artikulatif :
a. bottom-up : dengan merumuskan problematik yang ada di masayarakat (lapangan) ; yaitu perencanaannya tidak cuma dari masyarakat tetapi perencanaan yang ditujukan untuk kepentingan masayarakat bawah yang dirumuskan oleh para ahli setelah mendapatkan masukan dari lapangan.
7. Bersamaan dengan bottom-up, juga muncul incentif plan (perencanaan insentif) = perencanaan problem oriented.

Perbedaan TM Vs SF
Ciri-ciri TM :
1. Kegiatannya ada 5 (penebangan, penanaman, pemeliharaan, pengolahan dan pemasaran)
2. Perencanaan dan tujuan sudah ditetapkan dengan tujuan menghasilkan jenis tertentu (kayu pertukangan) dengan jenis tertntu (man made forest, plantation forest, artificial forest)
3. Monokultur
4. Daur tunggal dan panjang
5. Ekstensif
6. Fungsi hutan dipandang parsial (menghasilkan kayu tertentu)
7. Ada pembagian/Tata guna hutan yang tegas : HL, HPB,HPT, HPK

Ciri-ciri SF :
A. Ada 9 point yang membedakan SF dengan TM
B. Prosedur Perencanaannya :
1. bersifat integrated, vertikal maupun horizontal
2. Langkah-langkahnya mengikuti hierarki perencanaan (planning hierarchy) :
a. Penentuan batas-batas objek perencanaan (sistem pembangunan wilayah)
b. Pengenalan sub-sistem yang relevan dengan sub-sistem kehutanan
c. Identifikasi masalah sub-sistem
d. Status sub-sistem kehutanan : mengenal problematik, karakter sampai dengan menentukan rekayasa.
e. Dari point c & d kemudian merumuskan masalah pembangunan wilayah
f. Perumusan tujuan pengelolaan hutan (SF)
g. Rekayasa sistem pengelolaan hutan

Perencanaan artikulatif : “perencanaan yang mampu mengartikulasikan berbagai kepentingan (kebutuhan) masyarakat”.
Ad.d. Status sub-sistem Kehutanan : “menguraikan, mendiskripsi keadaan sub-sistem kehutanan sekarang ini : fisik, sosek, sistem pengelolaan yang digunakan, perencanaannya, input dan output yang digunakan

Berdasarkan status sub-sistem kehutanan  antar daerah akan beragam ditinjau dari :
• Topografi : keadaan bergunung, berbukit, datar, landai, curam
• Jenis tanah : subur-tidak subur, berbatu, erodible atau tidak, dll
• Iklim (basah, kering)
• Ketinggian tempat : tinggi – rendah (dpl)
Karakteristik sifat fisik akan sangat berpengaruh terhadap perumusan tujuan (memaksimalkan fungsi hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat)

Fungsi hutan dalam TM : dipandang parsial (kayu tertentu)
Fungsi hutan dalam SF : dipandang secara utuh (fungsi ekonomi dan perlindungan lingkungan). Atas dasar fungsi ini maka SF lebih menitik beratkan pada masalah ekonomi dan ekologi/lingkungan.

Fungsi hutan dalam SF :
• Sosial ekonomi
• Dengan titik berat fungsi ekonomi harus dikuantifikasi
• Dengan titik berat fungsi ekologi
FRM : titik beratnya ke ekonomi
FEM : titik beratnya ke ekologi

Kedua bentuk pengelolaan hutan ini (FEM dan FRM) bersifat dinamis. Fisik mungkin tetap tetapi sosial ekonomi berubah-ubah, sehingga boleh jadi yang tadinya berstatus FEM berubah menjadi FRM atau sebaliknya.

FRM & FEM bersifat komplementer (saling melengkapi) : artinya bersifat tata ruang, pada titik waktu tertentu titik beratnya FRM dan lainnya FEM. Setiap jangka/periode berubah-ubah, tergantung pada keadaaan.

Dalam TM, ada pembagian yang tegas dalam tata guna hutan : HP, HL, HK
Dalam SF, tidak ada lagi pembagian hutan seperti ini tetapi dalam bentuk FRM atau FEM, tergantung pada titik berat dan intensitas penekanannya.

Perbedaan SF dan TM

Pendekatan SF :
1. Forester : TM + plus (sosek)  (Forest engineering + Social engineering)
2. Non forester : hanya sosek
Forest engineering :
1. mempunyai kemampuan membangun hutan
2. kemampuan menjaga, memelihara dan meningkatkan (penjarangan, dll)
3. Mengatur pemanenan
4. Organisasi wilayah
Negara yang mampu membangun forestry engineering  hutannya full stock

Untuk melaksanakan forest engineering secara baik, maka dibuat rambu-rambu oleh pemerintah dalam bentuk kebijakan, yaitu dengan pengklasifikasian kawasan hutan : (HP, HL, HPK) yang tidak lain merupakan konsep TM dan hasilnya adalah kehancuran hutan.

Social engineering di mana letaknya?
• pada sub-sistem sosial (membutuhkan komoditas tertentu : kebutuhan sandang, pangan dan papan
Forestry engineering + social engineering  Social forestry engineering
Perbedaan TM dan SF :
Aspek TM SF
1. Tujuan Tertentu (keuntungan finansial sebesar-besarnya untuk perusahaan) Untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat
2. Perencanaan Instruktif (top-down) Insentif (bottom-up)
3. Pengelolaan Ekstensif, ditentukan oleh kelas perusahaan (1 KP = planning unit terkecil 4000-6000 ha) Intensif (MR), tiap jengkal hutan punya intensif manajemen, punya input produksi yang tinggi (labour, kapital)
4. Tanaman Monokultur Polikultur
5. Hasil Kayu Kayu + non kayu
6. Daur Tunggal Ganda (multiple)
7. Masyarakat Sumber tenaga kerja yang murah Sbg stakeholders
8. Status kehutanan Sistem yang berdiri sendiri Sub-sistem dari sistem pembangunan wilayah

MERANCANG SF

Ada 2 hal yang harus diingat dalam SF :
1. Prosedur perencanaannya
2. Tujuan pembangunan hutan (kemakmuran masyarakat)
Hutan di Jawa hancur karena :
1. Perencanaannya yang masih menggunakan TM konvensional yang tidak memahami dinamika lingkungan sekitarnya
2. Tujuan pembangunan hutannya hanya kayu untuk keuntungan perusahaan, sementara masyarakat dimarginalkan
Jika tekanan populasi kecil maka dapat diterapkan TM sebaliknya jika tekanan populasi besar maka harus SF

Perencanaan dari tingkat atas sampai bawah (Nasional  Regional  distrik) pada intinya adalah membicarakan kemakmuran masyarakat.
Tolok ukur kemakmuran :
1. Pendapatan perkapita
2. Lapangan pekerjaan
3. Kebutuhan pokok : pangan, papan, sandang

Tingkatan perencanaan hutan :

Nasional Negara

Regional Propinsi

Distrik Kabupaten

Nasional : kebutuhan yang bersifat normatif (garis besar), data sekunder dan data normatif yang dapat diperoleh dari buku-buku statistik
Regional : Meninggalkan kebutuhan normatif, kebutuhan sudah lebih konkrit, sesuai dengan keadaan masing-masing wilayah yang berbeda-beda
Misal : kebutuhan beras di Jawa dg Maluku berbeda
Dengan alur ini maka dapat direkayasa sistem pengelolaan mulai dari tingkat distrik s/d tk nasional. Dengan adanya otonomi daerah banyak amburadul sebab di tingkat distrik tidak match sampai ke tingkat nasional. Selama kehutanan belum mempunyai kerangka perencanaan seperti di atas, maka akan sulit dalam melaksanakan pembangunan kehutanan.

Kehutanan harus membuat rencana : nasional, regional dan distrik yang harus linkage. Kehutanan juga harus membuat ultimate gola dan intermediate goal. Ultimate goal misalnya : berapa tahun jangka waktu yang diperlukan untuk membuat hutan Indonesia agar full stock. Untuk mencapai ini maka perlu mengidentifikasi peluang, hambatan, tantangan dan ancaman.

Nasional : Ultimate goalnya : adalah full stock, berapa jangka waktunya tidak harus sama antar wilayah (Jawa tidak harus sama dengan Maluku dst)
Intermediate goalnya : apa indikator full stock harus dijelaskan

Regional Indonesia dapat dibagi menurut pulau (7 region) :
1. Region Sumatera 5. Maluku
2. Kalimantan 6. Irian
3. Jawa – Nusa Tenggara 7. Nusa Tenggara (apabila terpisah dg Jawa)
4. Sulawesi
Region kehutanan berbeda dengan yang lain. Oleh karena itu harus ada pembagian region-region tersendiri karena setiap region mempunyai ragam yang berbeda-beda.
Karakteristik dari setiap region ada 2, yaitu :
1. Masalah hutannya sendiri
2. Interaksi masyarakat dengan hutan
Regional pulau-pulau dianggap sebagai region TK I karena setiap region ternyata masih terlalu besar. Oleh karena itu region-region pulau di atas perlu dibagi-bagi lagi ke tingkat region berikutnya. Pertimbangannya adalah berdasarkan karakteristik masing-masing wilayah.
Di Jawa misalnya punya karakteristik :
1. Padat penduduk
2. Padat teknologi
3. terdapat jenis tanaman kayu yang bernilai tinggi (jati)
Karena 3 masalah di atas maka REM menjadi lebih berat dan harus bisa mengakomodirnya.
Karakteristik Sumatera :
1. Perkebunan sangat menonjol. Kehutanan harus bisa bergandengan dengan perkebunan, harus ada penataan areal karena perkebunan menguras humus, tidak semua tanaman perkebunan dapat dicampur dengan tan.kehutanan  bentuknya alley cropping
2. Penduduknya termasuk padat tetapi lebih sedikit dari Jawa
3. Tambang banyak dan berada di dalam kawasan hutan
Kalimantan :
1. Tanahnya miskin (tidak subur)  kehutanan lebih dititikberatkan
2. akhir-akhir ini mulai berkembang industri pertambangan
Sulawesi : sangat khas :
1. perkebunan kurang, tanah subur tetapi kurang dibanding Jawa
2. konfigurasi lapangan bergelombang
3. kehutanan juga terbatas
4. Jumlah penduduknya lebih banyak dibanding Sumatera
5. Agroforestry lebih berkembang daripada Sumatera dan Kalimantan
Maluku :
1. Termasuk daerah kepulauan
2. kehutanan cukup luas
Acuan dari setiap distrik (mikro) adalah kemakmuran
Acuan Nasional adalah penentuan komoditas kemakmuran dalam satu kesatuan : konsumsi domestik, dan ekspor. Dengan ekspor, kemakmuran dapat dicapai.

Perencanaan tingkat distrik masih dapat dibagi-bagi/diturunkan lagi ke tingkat yang lebih kecil. Di Jawa misalnya, tingkat distrik bukan di kabupaten tetapi di kecamatan atau desa.
BENTUK-BENTUK APLIKASI SF
DI DUNIA

SF muncul sejak Kongres Kehutanan VIII di Jakarta. Sejak itu muncul model-model SF yang saat ini baru ada 3 model SF :
I. Joint Forest Management (JFM) oleh Prof. Roy di India. (tahun 1989)
II. Model Forest (MF) oleh Foresters di Kanada (tahun 1990)
III. PHJO oleh Prof. Simon di Jawa-Indonesia (tahun 1988)
Latar belakang ketiga model SF ini semuanya hampir sama. Tujuannya adalah :
1. Meningkatkan kesejahteraan masayarakat
2. Kelestarian
3. Ekosistem

I. Joint Forest Management (JFM)
Karakteristik JFM : titik beratnya pada sharing hasil dan tanggung jawab
Latar belakang munculnya JFM :
1. Sejak kolonial, hutan di India dikuasai oleh negara (92%), 5 % oleh kelompok masyarakat; dan sissanya oleh individu-individu masyarakat.
2. Selama hutan dikuasai oleh negara, akses masyarakat sangat kecil dan semakin lama semakin kecil, dan semuanya diatur oleh negara (UU)
3. Pada awal UU tersebut dibuat oleh negara, belum menimbulkan masalah. Karena UU tersebut semakin memotong akses masyarakat ke hutan maka situasi di India terjadi konflik yang lebih keras daripada di Jawa karena pernah terjadi pemberontakan rakyat terhadap hutan
4. Setelah kemerdekaan tahun 1947, India meningkatkan pembangunan industri (Kereta Api, Kapal, pertanian) yang banyak sekali membutuhkan kayu bakar, bantalan kereta, gerbong kereta. Demikian pula industri kapal dan pertanian banyak menghabiskan kayu yang berasal dari hutan
5. Akibat point 4, maka muncul TM, kepentingan masyarakat menjadi terpinggirkan, sementara jumlah penduduk sudah banyak. Akibatnya terjadi konflik antara rakyat dengan pengelola hutan
6. Akibat point 5, kelestarian hutan terancam dan kemiskinan penduduk di sekitar hutan meningkat
Berangkat dari 6 permasalahan ini, dan bersamaan dengan Kongres Kehutanan VII di Jakarta maka Prof. Roy membuat JFM :
1. Hutan negara dikelola oleh masyarakat desa bekerjasama dengan pemerintah negara bagian
2. Masyarakat desa hutan tidak diberi hak untuk memiliki dan menyewakan tanahnya
3. Masyarakat pengelola hutan diberi hak penuh untuk memanfaatkan hasil hutan non kayu, sedangkan hasil hutan kayu akan mendapat bagian jika ada tebangan pada akhir daur (25%)
4. Masyarakat bersama departemen kehutanan membuat rencana mikro
5. Melibatkan berbagai stakeholders (LSM, perguruan tinggi, masyarakat lokal, dll) didasari dengan keterbukaan dan keadilan
Luas areal JFM saat ini mencapai 11 juta ha dari 26 juta ha hutan India, tetapi dari 11 juta ha, JFM ditempatkan pada hutan yang tidak produktif.

Kegiatan dalam JFM :
1. dibentuk kelompok kerja yang beranggotakan 9 orang : 6 masyarakat, 1 kehutanan, 1 pemerintah desa dan 1 pemerintah kecamatan
Kenyataan : walaupun kehutanan hanya satu, namun selalu menjadi ketua kelompok dan mendominasi pembicaraan termasuk pengambilan kebijakan.
2. Jenis tanaman polikutur, jati sebagai tanaman pokok.

II. Model Forest (MF)
Latar belakang MF :
1. Konflik antara masyarakat (First Nation, aborigin) dengan kehutanan. Konfliknya tidak separah di India dan Indonesia
2. Tujuannya : kelestarian dan kesejahteraan masyarakat, serta ekosistem.
Inti Model Forest :
1. Pekerjaan atau kegiatannya berbasis lahan dimana hutan sebagai sumber utamanya
2. Salah satu persyaratannya harus cukup luas agar mampu mencakup pengaruh atau berbagai kepentingan lingkungan dan sosial ekonomi (1 unit MF minimum 100 ribu ha)
3. Harus mampu mengembangkan paket-paket terpadu yang mampu menghasilkan sesuatu untuk mendorong berkembangnya SFM
4. MF dibangun atas dasar kemitraan dengan berbagai stakeholders (multi stakeholders) yang berkepentingan di wilayah yang bersangkutan
Dari 4 inti MF di atas, kemudian dibuat berbagai persyaratan/attribute untuk operasionalnya :
1. Kemitraan dengan multi-stakeholders ( masyarakat industri dan kelompok masyarakat; lembaga pemerintah; lembaga perguruan tinggi, NGO-NGO, Taman Nasional, kelompok penduduk asli (First nations, aborigin, pemilik lahan perorangan)
2. Kemitraan terhadap SFM. Para stakeholder komit terhadap pencapaian SFM. Dalam hal ini pendekatan pemanfaatan hutan harus bersifat ecosystem oriented.
3. Ruang lingkup kegiatan harus mencerminkan realitas kebutuhan masyarakat (asli, lokal, umum) : misalnya : lokal  lapangan kerja; regional  kayu bakar; Nasional  air, dll
4. Struktur organisasi harus dibuat sedemikian rupa untuk menjadi pengelola MF dengan cara partisipatif. Sumber daya mencerminkan ragam budaya, politik, ekonomi
5. Kerjasama baik pada tingkat lokal maupun pada tingkat yang paling tinggi.
Contoh MF :
Di Vanchouver luas MF = 400,000 ha. Didalamnya terdapat 1 unit logging company, TN, 7 komunitas masyarakat semunya menjadi anggota organisasi FM (dephut, pemerintah lokal, regional, kelompok pencinta lingkungan hidup, perguruan tinggi, LSM).
Langkah-langkah yang dilakukan oleh mitra dalam FM adalah :
1. Menetapkan tujuan umum. SFM diarahkan untuk memenuhi kepentingan 7 komunitas masyarakat dalam hutan tsb.
2. Membentuk Network Information secara adil kepada semua pihak/anggota
3. Melakukan training orang lokal untuk memanfaatkan GIS, internet
4. Membuat Rencana Mikro
5. Setiap saat melakukan update untuk merespon perubahan yang ada dalam wilayah FM tersebut.

Dalam SF, data yang dikumpulkan adalah data Sosial ekonomi masyarakat :
1. Data kependudukan (jumlah penduduk dan perkembangannya) :
d. Kelas umur : produktif – tak produktif
e. Pendidikan
f. Angkatan kerja total
g. Angkatan kerja desa hutan
h. Angkatan kerja kota dan urban
2. Kegiatan penduduk yang utama dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari misalnya sebagai petani, pedagang, penjual jasa, PNS, industrialis, dll. Kegiatan utama ini menjadi kegiatan yang penting.
3. Menghitung Kebutuhan dasar masyarakat (konsumsi kebutuhan dasar) dan perkembangannya : kebutuhan dasar dan perkembangannya dapat dihitung berdasarkan data jumlah penduduk. Kebutuhan dasar penduduk meliputi :
a. Pangan (beras, jagung, ubi-ubian)
b. Papan/tempat tinggal (konsumsi kayu pertukangan : rumah dan perlatannya yang berasal dari kayu)
c. Kayu bakar/energi (listrik, gas, minyak, kayu). Energi ini berhubungan dengan kemakmuran.
Kebutuhan dasar ini harus dihitung berapa konsumsi pangan, konsumsi kayu pertukangan dan konsumsi kayu bakar dan hasil perhitungan kebutuhan dasar ini dihubungkan dengan perkembangan kependudukan dan kemudian diproyeksikan ke depan untuk membuat rencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: