DIKLAT WASGANIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan pasal 117 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 Jo. Nomor 3 Tahun 2008 dinyatakan bahwa “Semua hasil hutan yang berasal dari hutan negara, dilakukan penetapan jenis, pengukuran volume/berat, dan atau penghitungan jumlah oleh petugas yang berwenang. Selanjutnya dalam ayat (3) dinyatakan bahwa “Semua hasil hutan yang berasal dari hutan negara, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan pengujian oleh petugas yang berwenang.
Kemudian dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.58/Menhut-II/2008 pasal 8 ayat (1) dinyatakan bahwa Pegawai Kehutanan yang melaksanakan tugas dan wewenang untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pekerjaan dan hasil kerja GANISPHPL wajib memiliki Kartu WAS-GANISPHPL. Dimana setiap WAS-GANISPHPL hanya dapat mengawasi GANISPHPL sesuai dengan spesifikasinya. Tenaga teknis tersebut memiliki kompetensi melakukan pengukuran dan pengujian kayu bulat sesuai dengan metode yang dipersyaratkan, melakukan pengukuran dan pengujian kayu bulat sesuai dengan peralatan pengukuran dan pengujian yang dipersyaratkan, melakukan penatausahaan hasil hutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta membuat laporan yang menguraikan secara jelas tentang pelaksanaan pekerjaan terebut.
Kegiatan pengukuran dan pengujian hasil hutan ditegaskan lagi melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.55/Menhut-II/2006 Jo. P.63/Menhut-II/2006 pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa, semua hasil hutan yang berasal dari hutan negara wajib dilakukan pengukuran dan pengujian oleh tenaga yang berkualifikasi penguji hasil hutan sebagai dasar perhitungan PSDH dan DR.
Dengan demikian kegiatan pengujian hasil hutan sangat penting untuk dilaksanakan secara optimal dan bertanggung jawab. Disamping itu melalui kegiatan pengujian akan diketahui kualitas suatu kayu yang mengarah kepada nilai jual, serta berpengaruh terhadap kegiatan supply / penyiapan pasokan bahan baku industri, maupun terhadap kualitas serta jenis produk yang akan dihasilkan.
Di dalam materi ini disajikan pokok-pokok bahasan seperti dasar hukum, petunjuk umum istilah-istilah pengujian dan syarat-syarat kualita sehingga diharapkan dengan membaca dan mempelajari materi ini, dapat membantu peserta diklat dalam mengikuti materi pelajaran pengujian KBRI baik teori maupun praktek.
Dengan demikian apabila peserta selesai mengikuti diklat dan dianggap lulus, diharapkan semua peserta dapat mengaplikasikannya di lapangan atau di tempat kerja masing-masing dengan tidak menyalahi atau bertentangan dengan ketentuan yang berlaku serta tidak merugikan perusahaan dan negara.
B. Pokok Bahasan

1. Teori dasar pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia
2. Peraturan pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia
3. Teknik pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia
4. Persyaratan mutu Kayu Bulat Rimba Indonesia
5. Cacat kayu yang paling memberatkan
6. Menguji dan menetapkan kualita Kayu Bulat Rimba Indonesia

C. Tujuan Instruksional Khusus

Peserta dapat melaksanakan pengujian dan menetapkan kualita Kayu Bulat Rimba Indonesia.
D. Dasar Hukum
1. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007, tanggal 08 Januari 2007 Jo. Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan;
2. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.58/Menhut-II/2008, tanggal 24 September 2008, tentang Kompetensi dan Sertifikasi Tenaga Teknis Pengelolaan Hutan Produksi Lestari;
3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.55/Menhut-II/2006, tanggal 29 Agustus 2006 tentang Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Negara;
4. Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Nomor 2443/Kpts/A-2/DD/1970, tanggal 20 Juli 1970 tentang Peraturan Pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia;
5. Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Nomor 97/Kpts/DJ/I/1975, tanggal 14 Juni 1975 tentang Penyempurnaan Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Nomor 2443/A-2/DD/70 tanggal 20 Juli 1970;
6. Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan Nomor 99/Kpts/DJ/I/1975, tanggal 14 Juni 1975 tentang Petunjuk Teknis Pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia;
7. Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor 58/Kpts/VI-OLAH/2003, tanggal 14 Nopember 2003 tentang Peralatan Pengukuran dan Pengujian Hasil Hutan;
8. Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor P.14/VI-BIKPHH/2009, tanggal 10 Nopember 2009 tentang Metode Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba Indonesia;
E. Maksud dan Tujuan
1. Maksudnya untuk digunakan sebagai pedoman oleh peserta dalam melaksanakan kegiatan pengujian kayu bulat rimba.
2. Tujuannya untuk menciptakan keseragaman terhadap cara pelaksanaan dan penerapan metode pengujian kayu bulat rimba baik di dalam diklat maupun di lapangan.
F. Lawas
1. Peraturan Pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia ini berlaku untuk semua jenis kayu bulat rimba, kecuali kayu jati.
2. Untuk semua keperluan dalam pengujian, kontrak jual beli dan sebagainya diharuskan memakai nama standar perdagangan

G. Penjelasan Istilah
1. Kayu Bulat adalah bagian dari batang/cabang dari semua jenis kayu selain kayu jati, terdiri dari kayu bulat asal hutan alam, kayu bulat asal hutan tanaman.
2. Pengujian Kayu Bulat Rimba adalah kegiatan kegiatan untuk menetapkan jumlah, jenis, volume/berat dan mutu (kualita) hasil hutan.
3. Sistim Cacat adalah suatu sistim pengujian kayu yang memperhitungkan nilai-nilai dan pengaruh cacat yang nampak terhadap mutu kayu, sebagai suatu ukuran untuk menentukan Mutunya yang dinyatakan dengan batas-batas maksimal dari cacat tersebut.
4. Sistim Hasil adalah terdiri dari sistim isi sehat dan sistim isi bersih, yaitu sistim-sistim pengujian kayu bulat yang memperhitungkan isi bagian – bagian sehat atau bersih dari kayu bulat tersebut sebagai suatu ukuran untuk menentukan Mutunya, yang dinyatakan secara prosentis dari isi kayu keseluruhan.
5. Cacat adalah tiap kelainan yang terdapat pada kayu yang dapat mempengaruhi mutu/kualitas.
6. Cacat Sehat adalah setiap cacat yang bebas dari pembusukan dan/atau gejala-gejalanya.
7. Cacat Tidak Sehat adalah setiap cacat yang mengandung pembusukan dan/atau gejala-gejalanya.
8. Cacat Bontos adalah cacat yang terdapat pada bontos kayu bulat. Cacat bontos yang dapat mengurangi (mereduksi) isi adalah teras busuk (Tb) dan Growong (Gr).
9. Mutu Kayu adalah suatu nilai dari kayu yang tingkatannya ditentukan oleh faktor cacat.
10. Segar (Se) adalah kayu bulat yang mempunyai gubal sehat, bebas dari lubang-lubang gerek dan stain, serangan lokan-lokan, cacing-cacing serta jamur yang mempunyai badan buah.
11. Gubal Busuk (Gb) adalah gubal yang telah mengalami pembusukan,dicirikan oleh rapuhnya bagian badan.
12. Lurus (Lu) adalah bilamana jarak penyimpangan (deviasi) lengkung kayu bulat tersebut tidak melebihi 1/13 dari diameter kayu.
13. Berserat Lurus (Blu) adalah apabila arah umum penyimpangan serat yang nampak pada permukaan kayu bulat terhadap sumbu kayu lebih dari 1/10.
14. Silindris (Si) adalah bila perbandingan antara diameter terpendek dan diameter terpanjang setiap bontos disepanjang kayu bulat tersebut sekurang-kurangnya 90%.
15. Hampir Silindris (Hsi) bila perbandingan antara diameter terpendek dan diameter terpanjang setiap bontos disepanjang kayu bulat tersebut kurang dari 90% dan tidak kurang dari 80%.
16. Tidak Silindris (Tsi) adalah bila perbandingan antara diameter terpendek dan diameter terpanjang setiap bontos disepanjang kayu bulat tersebut kurang dari 80%.
17. Bontos (Bo) adalah penampang melintang kayu bulat yang terdiri dari bontos yang berukuran lebih besar atau bontos pangkal (Bp) dan bontos yang berukuran kecil atau bontos ujung (Bu).
18. Pusat Bontos (B) adalah titik tengah dari lingkaran bontos.
19. Hati (H) adalah pusat dari lingkaran tumbuh. Hati dianggap terletak pada pusat bontos, jika pusat bontos hati masih terdapat di dalam lingkaran yang berpusat pada pusat bontos dan diameternya 10% dari diameter kayu.
20. Teras Rapuh (Tr) adalah teras yang memperlihatkan kerapuhan yang abnormal, termasuk hati rapuh.
21. Teras Busuk (Tb) adalah teras yang memperlihatkan tanda-tanda pembusukan dan mereduksi isi kayu bulat, termasuk hati busuk.
22. Gerowong (Gr) adalah lubang pada bontos ke arah panjang kayu, baik tembus maupun tidak tembus ke bontos yang lain tanpa atau dengan tanda-tanda pembusukan, kecuali lubang yang disebabkan oleh kesalahan teknik penebangan.
23. Retak (Re) adalah celah-celah kecil antara serat pada badan atau bontos kayu bulat yang dapat berkembang menjadi pecah-pecah. Umumnya disebabkan oleh pengeringan dengan ukuran lebih maksimal 2 mm.
24. Retak Hati (Rh) adalah retak pada bontos kayu bulat, dimulai dari hati mengarah kesisi bontos.
25. Pecah (Pe) adalah kelanjutan dari retak dengan ukuran yang lebih besar, tapi tidak merupakan celah-celah terbuka. Ukuran lebar maksimal 6 mm.
26. Belah (Be) adalah kelanjutan dari pecah dengan ukuran lebar lebih dari 6 mm dan merupakan celah terbuka.
27. Pecah Hati (Ph) adalah pecah pada bontos, dimulai dari hati dan meruncing kearah sisi.
28. Pecah gelang (Pg) adalah pecah pada bontos, mengikuti arah lingkaran tumbuh sehinga berbentuk lingkaran penuh atau lebih setengah lingkaran.
29. Pecah Busur (Pb) adalah seperti pecah gelang, hanya bentuknya kurang dari setengah lingkaran.
30. Lubang gerek (Lg) adalah lubang-lubang pada kayu bulat yang disebabkan oleh serangga-serangga penggerek atau larvanya atau oleh cacing laut, dibedakan dalam :
 Lubang gerek kecil (lgk) ukuran maksimal 1,5 mm
 Lubang gerek sedang (lgs) ukuran 1,5 mm s/d 3 mm
 Lubang gerek besar (lgb) ukuran lebih dari 3 mm
Lubang gerek kecil/sedang dianggap tersebar merata, apabila jumlahnya tidak lebih dari 30 buah di dalam suatu bidang dengan ukuran 12,5 cm 12,5 cm (± 150 Cm2) pada seluruh badan kayu
31. Lubang Cacing Laut (Lcl) adalah lobang-lobang yang disebabkan oleh toredo, bankia, martesia atau crustaceae, dengan diameter > 1 Cm dan dalamnya menembus sisi lain dari kayu bulat.
32. Mata Kayu (Mk) adalah bagian dari lembaga/cabang atau ranting yang tumbuh dalam kayu dan penampang lintangnya dapat berbentuk bulat atau lonjong.
33. Mata Kayu Sehat (Mks) adalah mata kayu yang bebas dari pembusukan, berpenampang keras dan tertanam teguh pada kayu, dan berwarna sama atau hampir sama dengan kayu disekitarnya.
34. Mata Kayu Busuk (Mkb) adalah mata kayu yang menunjukkan tanda-tanda pembusukan dan bagian-bagian kayunya lebih lunak atau lapuk dibandingkan dengan bagian-bagian kayu disekitarnya.
35. Lain-lain adalah cacat-cacat yang tidak disebut dalam bab ini.

BAB II
PERSYARATAN PENGUJIAN

A. Syarat Pembuatan dan Pengukuran
1. Syarat Pembuatan
Kayu yang akan diuji harus memenuhi syarat – syarat pembuatan sebagai berikut :
a. Setelah penebangan, banir, cabang, ranting dan benjolan dipapras rata dengan badan, kemudian dilakukan pembagian batang dan pengupasan kulit, kecuali bagi jenis yang mudah terserang oleh jamur biru dan kumbang ambrosia.
b. Pembagian batang dilakukan dengan memperhatikan azas peningkatan mutu dan peruntukannya.
c. Pemotongan batang dilakukan siku dan rata.
d. Terhadap kayu bulat yang mudah diserang jamur atau serangga penggerek, harus segera diawetkan antara lain dengan cara dilabur atau disemprot dengan pestisida (insektisida/ fungisida). Pada kayu yang tidak dikuliti harus dilabur pada kedua bontosnya.
2. Pengukuran
Cara/metode pengukuran mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor P.14/VI-BIKPHH/2009, tanggal 10 Nopember 2009 tentang Metode Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba Indonesia.

B. Tata Cara Pengujian

1. Prinsip Pengujian
Pengujian dilakukan secara kasat mata (visual) terhadap kecermatan penetapan jenis kayu, ukuran dan penilaian cacat-cacat yang nampak.
2. Peralatan Pengujian
Perlatan pengujian yang digunakan meliputi; pita ukur/meteran, tongkat ukur (scale stick), alat sogok, mistar, kampak uji, pisau pemotong (cutter), kaca pembesar (loupe) ukuran 10 kali, palu tok uji dan kapur lilin (crayon).

3. Persiapan Pengujian
a. Penyusunan
Kayu bulat yang akan diuji harus bersih serta disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pelaksanaan pengujian.
b. Waktu
Pengujian dilaksanakan pada siang hari atau di tempat yang terang (dengan pencahayaan yang cukup), sehingga dapat mengamati semua kelainan yang terdapat pada kayu.
4. Pelaksanaan Pengujian
a. Penetapan Jenis Kayu
Penetapan jenis kayu dilaksanakan dengan memeriksa ciri umum/ciri kasar kayu seperti warna, serat, bau, berat, teras dan gubal serta apabila diperlukan dilaksanakan dengan cara memeriksa ciri struktur anatomi kayu seperti pori, parenkim, jari-jari dan serabut terhadap contoh uji jenis.
Nama jenis kayu yang digunakan harus mengikuti nama kayu perdagangan yang berlaku di Indonesia.
b. Penetapan Ukuran
Cara/metode pengukuran mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor P.14/VI-BIKPHH/2009, tanggal 10 Nopember 2009 tentang Metode Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba Indonesia.
c. Penetapan Mutu
Sistem penetapan mutu kayu bulat rimba terdiri dari perpaduan persyaratan ukuran, persyaratan cacat dan persyaratan hasil (isi sehat/nilai konversi). Setiap unsur dari ketiga persyaratan tersebut dinilai dan ditetapkan mutunya, kemudian diambil mutu terendah.
d. Syarat Lulus Uji
Toleransi Penyimpangan :
Pengujian kayu bulat dikatakan lulus uji atau dianggap benar, apabila kesalahan/penyimpangannya masih dalam batas toleransi sebagai berikut :

No Unsur Toleransi
1.
2.
3.
4.
5. Jumlah batang
Jenis Kayu
Ukuran (panjang dan atau diameter)
Isi / Volume
Mutu 0 %
0 %
< 5 %
< 5 %
< 5 %
Perhitungan persentase penyimpangan :
1) Penyimpangan jenis :
Jumlah batang yang salah jenis x 100 %
Jumlah batang yang diuji
2) Penyimpangan mutu :
Jumlah batang yang salah mutu x 100 %
Jumlah batang yang diuji
3) Penyimpangan ukuran :
Mengikuti ketentuan dalam kepada Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor P.14/VI-BIKPHH/2009, tanggal 10 Nopember 2009 tentang Metode Pengukuran dan Tabel Isi Kayu Bulat Rimba Indonesia.
5. Penandaan
Terhadap kayu bulat yang telah dilakukan pengujian harus diterakan tanda-tanda sebagai berikut :
a. Pada Kayu Bulat / Kayu Bulat Sedang (KB/KBS) :
– Nomor kayu (Nomor petak, nomor pohon, nomor batang/potongan).
– Kode jenis kayu.
– Ukuran yang meliputi panjang dan diameter.
– Tanda mutu kayu.
– Tok tanda uji.
b. Pada Kayu Bulat Kecil (KBK):
Minimal nomor kayu dan kode jenis kayu.
c. Alat dan bahan penandaan
Alat dan bahan penandaan yang digunakan adalah pahat/cat/plastik dan spidol yang tahan air.
6. Pencatatan Hasil Pengujian
Pencatatan hasil pengujian mengacu kepada Permenhut No. P.55/Menhut-II/2006 tentang Penatausahaan Hasil Hutan Yang Berasal Dari Hutan Negara.
BAB III
PENETAPAN MUTU

A. Klasifikasi Mutu
Mutu Kayu Bulat pada umumnya diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelas mutu, yaitu :
a. Mutu Pertama (First Grade) dengan tanda “ P “
b. Mutu Kedua (Second Grade) dengan tanda “ D “
c. Mutu Ketiga (Third Grade) dengan tanda “ T “
d. Mutu Keempat (Four Grade) dengan tanda “ M “
B. Persyaratan Mutu
1. Persyaratan Mutu Kayu Bulat Rimba Sortimen KBB
a. Persyaratan Umum
– Tidak diperkenankan ada lubang cacing laut.
– Mks berdiameter < 5 cm, retak dan pecah bontos dianggap bukan cacat.
b. Persyaratan Khusus
Mutu Pertama (P) :
1). Ukuran
– Diameter : ≥ 60 Cm
– Panjang : ≥ 2,50 M
2). Bentuk
– Kayu harus Lurus (Lu)
– Kayu harus Hampir Silindris (HSi)
3). Badan
– Kayu harus Berserat Lurus (Blu)
– Lgk/Lgs : terbar merata (Barta)
– Pe/Be : ≤ 20% p’
– Mks : Jumlah 1 buah tiap 2 M, Ǿ 2-6 Cm, Jarak ≥ 1,5 M
– Mkb, Gb, Lgb dan Lcl : tidak diperkenankan
4). Bontos
– PLn Pb/Pg : ≤ 75% dBo
– Kayu diperkenankan mempunyai cacat bontos (Tb/Gr/Tr) dengan ketentuan IS ≥ 85%

Mutu Kedua (D)
1). Ukuran
– Diameter : ≥ 50 Cm
– Panjang : ≥ 2,50 M
2). Bentuk
Tidak dibatasi
3). Badan
– Kayu harus Berserat Lurus (Blu)
– Lgk/Lgs : tidak dibatasi
– Lgb : ≤ 3 buah/1M
– Pe/Be : ≤ 30% p’
– Mks : Jumlah 1 buah tiap 2 M, Ǿ 2-8 Cm,Jarak ≥ 1 M
– Tb diperkenankan asalkan IS ≥ 70%
– Mkb, Lcl : tidak diperkenankan
4). Bontos
– PLn Pb/Pg : ≤ 100% dBo
– Kayu diperkenankan mempunyai cacat lainnya dengan ketentuan IS ≥ 70%.

Mutu Ketiga (T)
1). Ukuran
– Diameter : ≥ 50 Cm
– Panjang : ≥ 2,50 M
2). Bentuk
Tidak dibatasi
3). Badan
– Kayu harus Berserat Lurus (Blu)
– Lgk/Lgs : tidak dibatasi
– Lgb : ≤ 6 buah/1M
– Pe/Be : ≤ 40% p’
– Mks : Jumlah 1 buah tiap 1 M, Ǿ 2-10 Cm, Jarak tdk dibatasi
– Mkb : Jumlah 1 buah tiap 1 M, Ǿ ≤ 10 Cm, Jarak tdk dibatasi
– Tb diperkenakan asalkan IS ≥ 60%
– Lcl : tidak diperkenankan
4). Bontos
– PLn Pb/Pg : ≤ 150% dBo
– Kayu diperkenankan mempunyai cacat lainnya dengan ketentuan IS ≥ 60%.

Mutu Keempat (M)
1). Ukuran
– Diameter : Tidak dibatasi
– Panjang : Tidak dibatasi
2). Bentuk
Tidak dibatasi
3). Badan
– Lgk/Lgs : tidak dibatasi
– Lgb : ≤ 10 buah/1M
– Pe/Be : tidak dibatasi
– Mks : tidak dibatasi
– Mkb : tidak dibatasi
– Tb diperkenakan asalkan IS ≥ 40%
– Lcl : tidak diperkenankan
4). Bontos
– PLn Pb/Pg : tidak dibatasi
– Kayu diperkenankan mempunyai cacat lainnya dengan ketentuan IS ≥ 40%.

2. Persyaratan Mutu Kayu Bulat Rimba Sortimen KBK
Kayu bulat rimba sortimen Kayu Bulat Kecil tidak dipersyaratkan dan tidak ada klasifikasi kualitanya.

BAB IV
PENUTUP

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga materi Pengujian Kayu Bulat Rimba Indonesia ini dapat disusun untuk dipergunakan sebagai materi pengajaran pada diklat WASGANISPHPL Pengujian Kayu Bulat Rimba Tahun 2011 di Makassar.
Dengan adanya materi ini diharapkan dapat menjadi acuan dan pedoman bagi para peserta diklat dalam melaksanakan kegiatan pengujian kayu bulat rimba di lapangan setelah nantinya diangkat sebagai Pengawas Tenaga Teknis PHPL Penguji Kayu Bulat Rimba di instansi masing-masing. Sehingga nantinya seluruh kegiatan pengujian kayu bulat rimba oleh para Pengawas Tenaga Teknis PHPL-PKB dapat melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sedapat mungkin dapat menekan dan menghindari adanya penyimpangan-penyimpangan yang dapat merugikan bangsa dan negara.
Penulis sadar kalau dalam penyusunan materi ini masih banyak terdapat kekurangan atau mungkin di dalam pengaplikasian di lapangan banyak dijumpai hal-hal yang baru, namun di dalam materi ini belum tercantum, sehingga sangat diharapkan adanya saran dan kritikan dari para peserta atau pembaca yang budiman, demi perbaikan dan penyempurnaan materi ini ke depan termasuk kebijakan-kebijakan yang termuat di dalamnya, sehingga diharapkan isi daripada materi ini dapat mengikuti perkembangan pembangunan di sektor kehutanan guna mewujudkan masyarakat yang madani.

Contoh Soal 1 :
Tentukan Isi Bersih, Isi Sehat dan Mutu kayu bulat rimba dari hutan alam, dengan ukuran sebagai berikut :
d1 = 100 Cm d3 = 97 Cm
d2 = 115 Cm d4 = 106 Cm
P’ = 6,72 M Tr = 30 Cm
Pe Bp = 105 Cm
Pe Bu = 75 Cm
Lengkung = 5 Cm
Jawab :
a. Ukuran : P = 6,72 M  6,70 M ………………….. (P)
D = (107 + 101): 2 = 104 …………………. (P)
0,7854 x 1042 x 6.70 M
IK = —————————– = 5,69 M3
10.000
b. Cacat Bentuk :
5 1 1
Kelurusan : —– = —– < —– (Lu) ……………… (P)
104 20 13
100
Kesilindrisan : —— x 100% = 87% (Hsi) …………. (P)
115
97
—— x 100% = 91,5 % (Si) ……… (p)
106
c. Cacat badan :
105 + 75
% Pe : ———– x 100% = 26,9 % 85% ………. (P)
f. Isi Bersih : 5,69 M3
g. Kualita : “D” (karena %Pe < 30%)

Contoh Soal 2 :
Tentukan Isi Bersih, Isi Sehat dan Mutu kayu bulat rimba dari hutan alam, dengan ukuran sebagai berikut :
d1 = 82 Cm d3 = 78 Cm
d2 = 91 Cm d4 = 85 Cm
P1 = 4,05 M
Deviasi le = 6 Cm
Arah Serat = 2/21 Cm
Jumlah Pe/Be = 75 Cm
Mks1 =  5 Cm
Mks2 =  6 Cm, Jarak Mks1 ke Mks2 = 1,20 M
Lgk = 25 Buah/150 Cm
Tebal Gb = 2 Cm
Pln Pb = 70 Cm (pada Bontos Pangkal)
Jawab :
a. Ukuran : P = 4,05 M  4,00 M ………………….. (P)
D = (86 + 81): 2 = 83 …………………… (P)
0,7854 x (83)2 x 4.00 M
IK = —————————– = 2,16 M3
10.000

b. Cacat Bentuk dan Keadaan Umum :
6 1 1
Kelurusan : —– = ——- < —– (Lu) …………… (P)
83 13,83 13
82
Kesilindrisan : —— x 100% = 90,1 % (Si) …………. (P)
91
78
—— x 100% = 91,8 % (Si) ……. (P)
85
2 1 1
Arah Serat : —- = ——- < —- (Blu) ………. (P) 21 10,5 10
21 10,5 10
c. Cacat badan :

75
% Pe : ———– x 100% = 18,8 % 1 M …………………….. (D)
Lgk : 25 Bh/150 Cm 85% …………… (P)
f. Isi Bersih : 2,16 M3 – 0,20 M3 = 1,96 M3
g. Kualita : “D” (karena %Gb,  Mks, Pln Pb)

Contoh Soal 3 :
Tentukan Isi Bersih, Isi Sehat dan Mutu kayu bulat rimba dari hutan alam, dengan ukuran sebagai berikut :
d1 = 58 Cm d3 = 52 Cm
d2 = 64 Cm d4 = 61 Cm
P1 = 9,96 M Deviasi Le = 4 Cm
Jumlah Pe/Be = 175 Cm
Mks1 =  5 Cm Mks2 =  6 Cm
Mks3 =  7 Cm Jarak Mks1 ke Mks2 : 2,50 M
Jarak Mks2 ke Mks3 : 1,70 M
Lgb = 4 Buah/1 tmp
Tr = 20 Cm
Gr = 15 Cm (pada Bontos Pangkal)

Jawab :
a. Ukuran : P = 9,96 M  9,90 M ………………….. (P)
D = (61 + 56): 2 = 58 …………………. ….. (D)
0,7854 x (58)2 x 9.90 M
IK = —————————– = 2,62 M3
10.000
b. Cacat Bentuk dan Keadaan Umum :
4 1 1
Kelurusan : —– = ——- < —– (Lu) …………… (P)
58 14,5 13
58
Kesilindrisan : —— x 100% = 90,6% (Si) …………. (P)
64
52
—— x 100% = 85,2% (HSi) …… (P)
61
Kesegaran : Tse (Lgb) …………………….. (S)
c. Cacat badan :

175
% Pe : ———– x 100% = 17,68 % 1,5 M …………………….. (P)
Lgb : 4 Bh/1 M …………………………… (T)
d. Cacat Bontos :
1,273 x 202
% Tr : ————– x 100% = 15,1 % ………. (P)
582
1,273 x 152
% Gr : ————– x 100% = 8,5% …….. (P)
582
Isi Gr : 9% x 2,62 M3 = 0,24 M3
e. Isi Sehat : 100% – 15,1 % = 84,9 % > 85% …………. (P)
f. Isi Bersih : 2,62 M3 – 0,24 M3 = 2,38 M3
g. Kualita : “T” (karena Lgb 4 bh/1M)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: